Seorang wanita melempar pandangan menerawang ke langit dari
balik jendela. Suara petir menyambut sapa. Ia teringat akan mantannya. Ia
sendiri, di kamarnya, di ulang tahunnya ke tiga puluh lima. Hatinya limbung,
menyanyi tanpa irama.
Hujan…. Oh hujan…..
Di sisi bumi lainnya, seorang ibu rumah tangga memuntahkan
kata makian. Dia harus berjibaku menyelamatkan cucian yang di jemur di
pelataran. Tidak semuanya bisa diselamatkan. Langit tak memberi peringatan. Tiba
– tiba saja kepingan – kepingan hujan berbondong – bondong berdatangan.
Hujan….. Oh hujan……
Gani berdoa semoga hujan ini tak berhenti sampai di sini. Ia
ingin derasnya membuat banjir hingga lima centi, doanya dalam hati. Kalau sudah
begitu, ia tak perlu cemas hari ini. Ia tak perlu ke sekolah karena ia korban bully.
Hujan…. Oh hujan…..
Hujan…..Oh hujan
Sawah yang mengering terairi. Kini para petani meyambut hari
dengan wajah berseri. Bagi mereka hujan sangat berarti. Tak perlu banyak –
banyak, secukupnya saja, asal setiap hari. Mimpi mereka sederhana; melihat
bulir – bulir padi, menyambung hidup anak dan istri.
Hujan…. Oh hujan…..
Pemuda tampan dan guru mengaji wahid, enam kata
mendeskripsikan sosok Radit. Ia mengajar di TPA tepat sebelah masjid. Ia
teringat akan satu hal, bukan bisikan, bukan wangsit. Telapaknya sakit, bekas pacul dan arit. Hujan deras dan angin
kencang mencumbu atap asbes disertai desahan menderit. Pikirannya lega namun
dadanya terhimpit. Tanah tutupan galiannya telah diratakan oleh tarian air yang
gesit. Di baliknya berbaring tubuh Farah, bekas muridnya yang genit. Salah
siapa bergenit – genit, dalam hatinya terbesit. Nanti malam, reda atau tidak,
dia akan kabur dari pulau ini dengan rakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar