Minggu, 07 Februari 2016

HUJAN



Hujan….. Oh hujan…..

Seorang wanita melempar pandangan menerawang ke langit dari balik jendela. Suara petir menyambut sapa. Ia teringat akan mantannya. Ia sendiri, di kamarnya, di ulang tahunnya ke tiga puluh lima. Hatinya limbung, menyanyi tanpa irama.


Hujan…. Oh hujan…..

Di sisi bumi lainnya, seorang ibu rumah tangga memuntahkan kata makian. Dia harus berjibaku menyelamatkan cucian yang di jemur di pelataran. Tidak semuanya bisa diselamatkan. Langit tak memberi peringatan. Tiba – tiba saja kepingan – kepingan hujan berbondong – bondong berdatangan.


Hujan….. Oh hujan……

Gani berdoa semoga hujan ini tak berhenti sampai di sini. Ia ingin derasnya membuat banjir hingga lima centi, doanya dalam hati. Kalau sudah begitu, ia tak perlu cemas hari ini. Ia tak perlu ke sekolah karena ia korban bully.


Hujan…. Oh hujan…..

Pak Tarno, pedagang ronde pinggiran, menunggu pembagian berkah dari Tuhan. Kini, tampaknya ia yang dapat giliran. Pengendera motor berhamburan dan mengungsi ke pinggir jalan. Tempat duduk warungnya yang kecil penuh dengan pantat – pantat kebasahan. Berteduh tanpa membeli, mereka pasti sungkan. Lembar – lembar rupiah dikeluarkan. Hitung – hitung cari kehangatan.


Hujan…..Oh hujan

Sawah yang mengering terairi. Kini para petani meyambut hari dengan wajah berseri. Bagi mereka hujan sangat berarti. Tak perlu banyak – banyak, secukupnya saja, asal setiap hari. Mimpi mereka sederhana; melihat bulir – bulir padi, menyambung hidup anak dan istri.


Hujan…. Oh hujan…..


Pemuda tampan dan guru mengaji wahid, enam kata mendeskripsikan sosok Radit. Ia mengajar di TPA tepat sebelah masjid. Ia teringat akan satu hal, bukan bisikan, bukan wangsit. Telapaknya sakit, bekas pacul dan arit. Hujan deras dan angin kencang mencumbu atap asbes disertai desahan menderit. Pikirannya lega namun dadanya terhimpit. Tanah tutupan galiannya telah diratakan oleh tarian air yang gesit. Di baliknya berbaring tubuh Farah, bekas muridnya yang genit. Salah siapa bergenit – genit, dalam hatinya terbesit. Nanti malam, reda atau tidak, dia akan kabur dari pulau ini dengan rakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar