Minggu, 14 Februari 2016

Menguliti Macan Luwe Sampai Ke Tulangnya



Ini pertama kalinya saya menguliti suatu cerpen dalam sebuah blog. Awal mula membuat, semua dikarenakan saya tergelitik oleh komen – komen se-enak udel dari orang – orang yang menelan tanpa mengunyah dan merasakan dalam sebuah blog cerpen. Cerpen yang akan saya kuliti adalah cerpen berjudul Macan Lapar, gubahan mas Danarto.

Cerpen mas Danarto tersebut dikemas dalam humor yang cukup menggelitik, meski tidak bisa membuat tertawa besar. Bahkan kalau ada yang bilang kalau dia tertawa terpingkal – terpingkal atau terbahak – bahak sampai berguling – guling waktu membaca karya mas Danarto yang satu ini, saya bisa bilang itu cuma omongan satir, atau pemanis belaka. Teman saya yang mudah tertawa dan punya selera humor buruk pun tak kan tertawa. Paling banter sih, cuman senyum ngintip - ngintip.

Tapi apakah itu yang itu yang dimaksudkan mas Danarto saat membuat cerita ini: menggugah tawa?
Tidak. Dia tidak menulis cerita humor. Menurutku apa yang dipraktekkan mas Danar sangat unik. Membungkus emas dengan kertas koran yang tebal dan berlapis - lapis. Bagi siapa pun yang melihat sekilas, atau hanya merobek bagian luarnya, mereka akan mengganggap benda itu sampah, sesuatu yang tak bernilai. Bagi yang bisa merobek hingga ke intinya, ia akan menemukan emas.

“Menurut John, masa bahagia adalah ketika kuliah di Solo, ia menginap di rumah saya di bilangan Notosuman, bertetangga dengan kedai Srabi Notosuman yang termasyhur itu. Bagaimana ia tidak berbahagia, segalanya tersedia dengan gampang. Tidak seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri, di Solo jika lapar bisa langsung makan, bila pengin ngopi tinggal pesan, bila pakaian kotor tinggal dilemparkan. Jika nonton pertunjukan, pergi kuliah, maupun piknik, cukup dengan naik sepeda.

Kita bisa melihat cerminan bagaimana orang asing merasakan superioritas pada bagian ini. Orang asing dilihat oleh orang pribumi lebih baik dari hampir segala hal (pada saat ini), mulai dari fisik, keterampilan, intelegensi, sampai dengan budayanya. Masyarakat kita mulai berbicara, berpenampilan, berpikiran, dan berbudaya ‘kebarat – barat-an’. Orang asing (bule) sering mendapat perlakuan istimewa dan dituankan oleh pribumi sebagai pemilik rumah. Bule gelandangan yang tidak bisa apa – apa di negara asalnya bahkan nilainya bisa naik berlipat – lipat seperti dollar yang menjejak ibu pertiwi, semisal jadi artis.Dan, coba perhatikan lagi kalimat ini.

“Tidak seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri,.......”

John menjadi raja di sini dan orang biasa di negaranya. Alasannya? Baca lagi di atas. Kalau boleh aku pinjam istilah, katakan lah itu adalah ‘Bule Previlege’ (Hak Istimewa Bule).

“Setelah John menjadi profesor di usia 25, ia sadar bahwa tak ada gunanya seorang profesor yang jomblo.

Sebenarnya usia John tidak terlalu tua, masih muda malahan. Bahkan ia sudah menjadi profesor di umurnya yang ke 25, terbilang sukses. Dia mencoba menjalin hubungan dengan mahasiswinya, namun tak ada yang mau dinikahi. Di sini kita bisa menarik beberapa praduga.

(1) John salah mencari tempat buruan. Harusnya ia tidak mencari jodoh di kampusnya. Mungkin cinta antara dosen dan mahasiswi tidak lumrah, bikin malu, mengundang prasangka dan merupakan skandal? Entah. Tapi mereka di Amerika, tempat dimana hal – hal tabu menjelma menjadi sesuatu yang biasa. Lagi pula jarak umur mahasiswi baru, yang kira – kira 17-an, dengan umur 25 bukan jarak yang terlampau jauh. Kalau jadi wanita, menurut saya dilamar dosen muda, professor lagi, adalah penawaran yang menarik.

Kemungkinan yang paling buruk adalah

(2)John bertampang jelek.

Bila memang benar John bertampang jelek, mengapa ia begitu percaya diri dan menggebu kalau gadis Indonesia mau dengan dia. Balik lagi ke penjelasan yang di atas.

“Ketika saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak.”       

Sebagai tambahan, sekedar mengingatkan bahwa nama ‘John’ adalah salah satu nama barat namanya yang sangat klise bagi orang Indonesia. Mungkin anda ingat pelawak favorit anda berpura – pura jadi bule dan memperkenalkan diri dengan nama ‘John’. Apa kah ini kebetulan? Atau mungkin mas Danar memang ‘menculik’ fenomena itu untuk menggambarkan bahwa John adalah gambaran umum untuk seorang Bule? Kalau iya, brilian sekali!

Nah, kita istirahat dulu ngarasani soal John. Sekarang kita lihat ke pusat dimana cerita ini berputar, yang mana sekalius menjadi judul cerita.

Macan Luwe. Kalau diindonesiakan, jadi ‘Macan Lapar’. Macan Luwe disini dialiaskan dengan Putri Solo. Alasannya sederhana, yakni kesamaan lenggok jalan Putri Solo dengan macan yang kelaparan; berlenggak – lenggok, pelan, dan gemulai. Kenapa binatang yang dipilih adalah macan yang kelaparan? Macan adalah hewan buas. Bahkan ketika ia terlihat lemas karena kelaparan, ia masih disegani. Saya juga menemukan beberapa fakta mengenai macan sebagai berikut.




“Macan adalah kucing yang paling pintar dalam memanjat. Waktu hidupnya lebih banyak dihabiskan di atas pohon, dan hanya turun ketika mencari mangsa atau air. Kekhasan pada binatang ini adalah tubuhnya yang dipenuhi dengan bintik-bintik atau tutul berwarna hitam. Berbeda dengan jenis kucing lain yang mengandalkan strategi berkelompok untuk mendapatkan mangsanya, macan memanfaatkan kemampuan individual untuk berburu.

Lihat. Betapa mandiri dan terampilnya macan melalui deskripsi yang kita dapatkan di atas. Ia memenuhi hajat hidupnya, kebutuhannya secara individual, melakukan segalanya sendiri. Dan jangan lupa cuplikan kalimat ini.
“Waktu hidupnya lebih banyak dihabiskan di atas pohon, dan hanya turun ketika mencari mangsa atau air.”
Seperti halnya para wanita pribumi yang berfungsi secara konvensional, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan hanya keluar rumah untuk belanja semisal.

“Menurut Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk.Megal-megol-nya para peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis.”

Gaya berjalan macan lapar menjadi fitur dari pada keanggunan universal . Dalam ceritanya Mas Darno ini, ceritanya gaya ini diadopsi sampai ke manca negara. Jangan lupa cermati juga yagn satu ini.

“Hal itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja, sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.”

Jika gaya macan luwe tersebut perlambangan dari keanggunan, maka Putri Solo memilki keanggunan alami dari dalam, bukan buatan, palsu, seperti para peragawati. Putri Solo diyakini memiliki pesona luar – dalam. Kalau mau dikaitkan dengan konteks yang lebih modern, bisa. Tahu kontes putri ini lah, itu lah yah pokoknya putri – putri-an. Kontes tersebut bukan hanya sekedar kontes kecantikan fisik luar, tapi juga kecantikan dalam diri (kecerdasan dan budi pekerti). Apalagi ditambah dengan embel – embel ‘Solo’ yang merupakan pars pro toto dari masyarakat Jawa Tengah yang terkenal kental budaya dan sopan – sopan. Kalau pun tak cantik, dengan pesona dari dalam, Putri Solo akan terlihat lebih menarik.
Baiklah, setelah puas membayangkan kemolekan Putri Solo mari kembali ngerasani soal John.

“Lepas ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis), Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi (wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan. Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.

Siapakah John, sampai – sampai ia bisa mengumpulkan orang – orang penting, berpengaruh, dan terkenal dalam satu tempat? Bisa jadi karena Bule Previlege. Banyak pembaca cerpen ini yang mengganggap peristiwa pada paragraf tersebut dagelan, sebuah lawak atau lucu – lucuan. Tapi seperti kata orang bijak, jangan menafsirkan sesuatu mentah – mentah. Apa yang terjadi disana, lebih dari sekadar dagelan untuk menarik perhatian pembaca dengan membariskan nama – nama tokoh penting.

Mereka semua ceritanya diundang John untuk menerima kejutan. Kesediaan mereka untuk datang nyatanya bukan karena mereka ‘tunduk’ menghormati John. Mereka datang untuk mengantisipasi akan hal – hal yang tidak diinginkan yang akan terjadi. Kehadiran mereka lebih tepat didefinisikan sebagai bentuk penjagaan. Coba tilik lagi bagaimana mereka ‘sedang berharap-harap cemas sambil mencereng (melihat dengan seksama) menatap jalanan.’

Dalam peristiwa tersebut, John adalah perlambangan entitas dari luar, entah budaya, entah apa. Sedangkan orang – orang penting yang berjejer tersebut merupakan perlambangan penjagaan. Mereka menjadi laskar – laskar, yang melindungi kebudayaan Solo. Lawannya, musuhnya? Ya si John tadi.

Dua komponis, satu aktivis, satu dalang, satu guru spiritual, dan satu walikota Solo. Gelar yang mereka sandang sudah cukup menggambarkan tanggung jawab mereka untuk menjaga ‘kemurnian’ budaya Solo. Berikut uraiannya:

(1)Komponis yang disebutkan (Sadra dan Rahayu Supanggah) adalah komponis (orang yang menciptakan hasil karya musik) yang menjunjung akar budaya tradisional. Mereka adalah laskar – laskar yang menjaga telinga orang Solo dari budaya barat.

(2) Modrik Sangidu (aktivis)  menjadi laskar yang melindungi kepala (pemikiran) orang – orang Solo dari penjajahan ideologi kebaratan.

(3) Slamet Gundono (dalang)  menjadi laskar yang melindungi mata orang Solo agar tidak dibutakan dengan kesenian barat.

(4) Suprapto Suryodarmo (guru spiritual) bertugas menjadi laskar pelindung hati (rohani, batin) orang – orang Solo dari pengaruh barat.

(5) Dan yang terakhir pak Jokowi (wali kota Solo pada masa itu. Sekarang jadi presiden) adalah pemimpin, penggerak dan pemegang komando. Seorang pemimpin kota Solo memiliki kewajiban untuk menjaga kotanya.

Kelima golongan tersebut digambarkan bertugas untuk ‘menjaga’. Ketika saya bilang ‘menjaga’, bukan berarti mereka sama sekali anti terhadap barat. Di era global ini, asimilasi budaya merupakan hal yang mustahil dihindari. Lagi pula, apa bila budaya dari luar yang diambil kedalam bersifat positif, maka akan membawa dampak positif pula. Apa bila ada sesuatu yang ‘kelewatan’, maka tugas mereka dimulai, seperti yang diceritakan dibawah.

 “Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan. Langkah yang pelan, yang pasti, yang terkonsentrasi penuh. Namun gaya ini—sekali lagi–tulen. Gadis itu melenggang ke pintu masuk keraton ketika tiba-tiba John meloncat mengejarnya. Fafa mencoba menahan John. Saya dan Modrik serta pak Jokowi ikut berlari mengejar. Prapto, Sadra, dan Panggah terbahak. Gundono berteriak dan tertawa, ”Kejar! Kejar!” sambil mencakar cukelelenya keras-keras membangun ketegangan.

Peristiwa di atas mengibaratkan masuknya perjuangan budaya barat, yang diwakili oleh diri John. Ketika John awal beraksi, mengapa hanya pak Modrik dan Pak Jokowi yang berusaha menjaganya? Seperti yang saya terangkan sebelumnya, mereka tidak anti pada budaya luar, lebih menganut ke paham penyaringan budaya. Mereka melihat terlebih dahulu bagaimana budaya barat tersebut melebur. Jika melihat penggalan cerita di atas, nampaknya orang ‘seni’ memang lebih santai dari pada orang ‘politik’. Sebuah kesan tersembunyi dari mas Danarto.

Kebetulan lagi? Tidak! Mas Danarto memang jenius!

“Ketika John mencapai teras keraton, kami melihat pemandangan yang mengerikan: John jadi Cleret Gombel! Menyaksikan John yang bermetamorfosis jadi sebangsa bunglon yang bisa terbang itu, gadis yang dikejar itu berteriak-teriak ketakutan lalu meloncat ke dalam ke halaman dalam keraton. Kami berloncatan meringkus John si Cleret Gombel. Saya dan pak Jokowi terlempar. Fafa menjerit karena si Cleret Gombel menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Mas Modrik yang persis Samson itu dengan kuat meringkus John hingga roboh. John terus meronta menggeram-geram sambil unjuk taringnya yang putih berkilat. Kemudian dengan mobil hardtop mas Modrik, ramai-ramai John kami serahkan kepada pak Oei Hong Djien, guru spiritual yang khusus menangani keseimbangan pikiran dan perasaan, dari komunitas kebatinan Sumarah. Kami sepakat membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.

Nah, di sini tensi cerita mulai memuncak. Si John berubah jadi Cleret Gombel, atau kalau orang betawi sebut Cekibar, dan orang Sunda sebut Hap – Hap. Jika masih bingung, sebut saja nama umumnya, ‘cecak terbang’. Dengan mata telanjang, kita bisa mengira bahwa perubahan John, yang mana dari manusia menjadi kadal, merupakan cara lain untuk menunjukkan John telah hilang kendali secara dramatis. Tapi, lagi – lagi sisi penasaran saya bertanya, “kenapa harus Cleret Gombel?”




Cleret Gombel secara fisik adalah kadal bersayap. Tidak seperti burung, hewan ini menggunakan sayapnya untuk mendarat dengan elegan. Karena tidak bisa terbang, maka sedikit – banyak tujuan terbang luncurnya hanya bisa lebih rendah, tidak bisa lebih tinggi. Oleh karena itu, John yang dalam cerita menjelma menjadi Cleret digambarkan menuruni derajatnya sebagai orang barat menuju ke kebudayaan timur. Sudah cerita lama bahwa orang barat ‘merajai’ mayoritas isi dunia dari zaman dahulu kala ketika masih mencari rempah, hingga sekarang. Coba hitung berapa banyak negara yang dijajah dan penduduknya yang diperbudak.

Cleret Gombel sendiri secara geografis  menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau,Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur.( https://id.wikipedia.org/wiki/Cecak_terbang). Semua itu adalah kawasan Asia. Dengan kata lain, si John mengasimilasi diri dengan wujudnya sebagai hewan Asia yang pada konteks ini adalah ‘cecak terbang’.

Sebelum kita lanjut, saya menemukan hal menarik. Sangat menarik.

“Kami sepakat membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.



Siapakah Intan Paramaditha? Dia adalah sastrawan segudang pretasi Nasional dan Internasional.
Ia adalah seorang pengarang dan akademisi. Karya sastra maupun tulisan ilmiahnya sering kali terfokus pada hubungan antara gender dan seksualitas, budaya, dan politik. (Wikipedia)

Kalau tidak salah, Mbak Intan sekarang berdomisili di New York, Amerika Serikat. Apakah Mbak Intan ‘terancam’ oleh ‘Cleret Gombel’? Sangat mungkin, seperti halnya dalam cerita.

Bagi yang ingin tahu siapa Intan Paramaditha dalam, bisa klik tautan dibawah.


Dan sebagai penutup….

“Belakangan pak Jokowi melakukan rapat maraton dengan para budayawan Solo untuk membahas tentang rencananya melakukan revitalisasi gaya melenggok ala Macan Lapar ini. Kota Solo diyakini menjadi satu-satunya kota di dunia yang punya gaya berjalan putri-putrinya yang elegan itu.”

Revitalisasi artinya menghidupkan atau menggiatkan kembali. Para tetokoh sedang merencanakan untuk menghidupkan kembali kebudaayan mereka yang dalam cerita diwakili oleh gaya melenggok ‘Macan Lapar’

Apa yang dapat kita pelajari dari cerpen tersebut? Kalau Anda membaca dengan seksama, Anda dapat menyimpulkan sendiri.


Sudah dilapisan berada anda merobeknya?


Ya Tuhan. Saya menemukan emas!



Sudahkah anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar