Ini pertama kalinya saya menguliti
suatu cerpen dalam sebuah blog. Awal mula membuat, semua dikarenakan saya
tergelitik oleh komen – komen se-enak udel dari
orang – orang yang menelan tanpa mengunyah dan merasakan dalam sebuah blog cerpen. Cerpen yang akan saya
kuliti adalah cerpen berjudul Macan Lapar, gubahan mas Danarto.
Cerpen mas Danarto tersebut dikemas dalam
humor yang cukup menggelitik, meski tidak bisa membuat tertawa besar. Bahkan
kalau ada yang bilang kalau dia tertawa terpingkal – terpingkal atau terbahak –
bahak sampai berguling – guling waktu membaca karya mas Danarto yang satu ini,
saya bisa bilang itu cuma omongan satir, atau pemanis belaka. Teman saya yang
mudah tertawa dan punya selera humor buruk pun tak kan tertawa. Paling banter
sih, cuman senyum ngintip - ngintip.
Tapi apakah itu yang itu yang
dimaksudkan mas Danarto saat membuat cerita ini: menggugah tawa?
Tidak. Dia tidak menulis cerita humor.
Menurutku apa yang dipraktekkan mas Danar sangat unik. Membungkus emas dengan
kertas koran yang tebal dan berlapis - lapis. Bagi siapa pun yang melihat
sekilas, atau hanya merobek bagian luarnya, mereka akan mengganggap benda itu sampah,
sesuatu yang tak bernilai. Bagi yang bisa merobek hingga ke intinya, ia akan
menemukan emas.
“Menurut
John, masa bahagia adalah ketika kuliah di Solo, ia menginap di rumah saya di
bilangan Notosuman, bertetangga dengan kedai Srabi Notosuman yang termasyhur
itu. Bagaimana ia tidak berbahagia, segalanya tersedia dengan gampang. Tidak
seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri, di Solo jika lapar
bisa langsung makan, bila pengin ngopi tinggal pesan, bila pakaian kotor
tinggal dilemparkan. Jika nonton pertunjukan, pergi kuliah, maupun piknik,
cukup dengan naik sepeda.”
Kita
bisa melihat cerminan bagaimana orang asing merasakan superioritas pada bagian
ini. Orang asing dilihat oleh orang pribumi lebih baik dari hampir segala hal (pada
saat ini), mulai dari fisik, keterampilan, intelegensi, sampai dengan budayanya.
Masyarakat kita mulai berbicara, berpenampilan, berpikiran, dan berbudaya ‘kebarat
– barat-an’. Orang asing (bule) sering mendapat perlakuan istimewa dan
dituankan oleh pribumi sebagai pemilik rumah. Bule gelandangan yang tidak bisa
apa – apa di negara asalnya bahkan nilainya bisa naik berlipat – lipat seperti
dollar yang menjejak ibu pertiwi, semisal jadi artis.Dan, coba perhatikan lagi
kalimat ini.
“Tidak
seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri,.......”
John
menjadi raja di sini dan orang biasa di negaranya. Alasannya? Baca lagi di
atas. Kalau boleh aku pinjam istilah, katakan lah itu adalah ‘Bule Previlege’ (Hak Istimewa Bule).
“Setelah
John menjadi profesor di usia 25, ia sadar bahwa tak ada gunanya seorang
profesor yang jomblo.”
Sebenarnya
usia John tidak terlalu tua, masih muda malahan. Bahkan ia sudah menjadi profesor
di umurnya yang ke 25, terbilang sukses. Dia mencoba menjalin hubungan dengan
mahasiswinya, namun tak ada yang mau dinikahi. Di sini kita bisa menarik
beberapa praduga.
(1)
John salah mencari tempat buruan. Harusnya ia tidak mencari jodoh di kampusnya.
Mungkin cinta antara dosen dan mahasiswi tidak lumrah, bikin malu, mengundang
prasangka dan merupakan skandal? Entah. Tapi mereka di Amerika, tempat dimana
hal – hal tabu menjelma menjadi sesuatu yang biasa. Lagi pula jarak umur
mahasiswi baru, yang kira – kira 17-an, dengan umur 25 bukan jarak yang
terlampau jauh. Kalau jadi wanita, menurut saya dilamar dosen muda, professor lagi,
adalah penawaran yang menarik.
Kemungkinan
yang paling buruk adalah
(2)John
bertampang jelek.
Bila
memang benar John bertampang jelek, mengapa ia begitu percaya diri dan menggebu
kalau gadis Indonesia mau dengan dia. Balik lagi ke penjelasan yang di atas.
“Ketika
saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan
datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan
Lapar, saya terbahak.”
Sebagai
tambahan, sekedar mengingatkan bahwa nama ‘John’ adalah salah satu nama barat
namanya yang sangat klise bagi orang Indonesia. Mungkin anda ingat pelawak
favorit anda berpura – pura jadi bule dan memperkenalkan diri dengan nama ‘John’.
Apa kah ini kebetulan? Atau mungkin mas Danar memang ‘menculik’ fenomena itu untuk
menggambarkan bahwa John adalah gambaran umum untuk seorang Bule? Kalau iya,
brilian sekali!
Nah,
kita istirahat dulu ngarasani soal John. Sekarang kita lihat ke
pusat dimana cerita ini berputar, yang mana sekalius menjadi judul cerita.
Macan Luwe. Kalau
diindonesiakan, jadi ‘Macan Lapar’. Macan Luwe disini dialiaskan dengan Putri
Solo. Alasannya sederhana, yakni kesamaan lenggok jalan Putri Solo dengan macan
yang kelaparan; berlenggak – lenggok, pelan, dan gemulai. Kenapa binatang yang
dipilih adalah macan yang kelaparan? Macan adalah hewan buas. Bahkan ketika ia
terlihat lemas karena kelaparan, ia masih disegani. Saya juga menemukan
beberapa fakta mengenai macan sebagai berikut.
“Macan adalah
kucing yang paling pintar dalam memanjat. Waktu hidupnya lebih banyak
dihabiskan di atas pohon, dan hanya turun ketika mencari mangsa atau air.
Kekhasan pada binatang ini adalah tubuhnya yang dipenuhi dengan bintik-bintik
atau tutul berwarna hitam. Berbeda dengan jenis kucing lain yang mengandalkan
strategi berkelompok untuk mendapatkan mangsanya, macan memanfaatkan kemampuan
individual untuk berburu.”
Lihat.
Betapa mandiri dan terampilnya macan melalui deskripsi yang kita dapatkan di
atas. Ia
memenuhi hajat hidupnya, kebutuhannya secara individual, melakukan segalanya
sendiri. Dan jangan lupa cuplikan kalimat ini.
“Waktu
hidupnya lebih banyak dihabiskan di atas pohon, dan hanya turun ketika mencari
mangsa atau air.”
Seperti
halnya para wanita pribumi yang berfungsi secara konvensional, mereka lebih
banyak menghabiskan waktu di rumah dan hanya keluar rumah untuk belanja
semisal.
“Menurut
Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul
dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok
muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu
bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini
dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh
para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang
oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk.Megal-megol-nya para
peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis.”
Gaya
berjalan macan lapar menjadi fitur dari pada keanggunan universal . Dalam
ceritanya Mas Darno ini, ceritanya gaya ini diadopsi sampai ke manca negara.
Jangan lupa cermati juga yagn satu ini.
“Hal
itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja,
sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan
laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam
budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri
Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes,
kewes, dan sensuous.”
Jika
gaya macan luwe tersebut perlambangan dari keanggunan, maka Putri Solo memilki
keanggunan alami dari dalam, bukan buatan, palsu, seperti para peragawati.
Putri Solo diyakini memiliki pesona luar – dalam. Kalau mau dikaitkan dengan
konteks yang lebih modern, bisa. Tahu kontes putri ini lah, itu lah yah
pokoknya putri – putri-an. Kontes tersebut bukan hanya sekedar kontes
kecantikan fisik luar, tapi juga kecantikan dalam diri (kecerdasan dan budi
pekerti). Apalagi ditambah dengan embel – embel ‘Solo’ yang merupakan pars pro toto dari masyarakat Jawa
Tengah yang terkenal kental budaya dan sopan – sopan. Kalau pun tak cantik,
dengan pesona dari dalam, Putri Solo akan terlihat lebih menarik.
Baiklah,
setelah puas membayangkan kemolekan Putri Solo mari kembali ngerasani soal John.
“Lepas
ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas
Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis),
Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi
(wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan.
Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.”
Siapakah
John, sampai – sampai ia bisa mengumpulkan orang – orang penting, berpengaruh,
dan terkenal dalam satu tempat? Bisa jadi karena Bule Previlege. Banyak pembaca cerpen ini yang mengganggap
peristiwa pada paragraf tersebut dagelan,
sebuah lawak atau lucu – lucuan. Tapi seperti kata orang bijak, jangan
menafsirkan sesuatu mentah – mentah. Apa yang terjadi disana, lebih dari
sekadar dagelan untuk menarik
perhatian pembaca dengan membariskan nama – nama tokoh penting.
Mereka semua
ceritanya diundang John untuk menerima kejutan. Kesediaan mereka untuk datang
nyatanya bukan karena mereka ‘tunduk’ menghormati John. Mereka datang untuk
mengantisipasi akan hal – hal yang tidak diinginkan yang akan terjadi.
Kehadiran mereka lebih tepat didefinisikan sebagai bentuk penjagaan. Coba tilik
lagi bagaimana mereka ‘sedang berharap-harap cemas sambil mencereng
(melihat dengan seksama) menatap jalanan.’
Dalam
peristiwa tersebut, John adalah perlambangan entitas dari luar, entah budaya,
entah apa. Sedangkan orang – orang penting yang berjejer tersebut merupakan
perlambangan penjagaan. Mereka menjadi laskar – laskar, yang melindungi
kebudayaan Solo. Lawannya, musuhnya? Ya si John tadi.
Dua komponis,
satu aktivis, satu dalang, satu guru spiritual, dan satu walikota Solo. Gelar
yang mereka sandang sudah cukup menggambarkan tanggung jawab mereka untuk
menjaga ‘kemurnian’ budaya Solo. Berikut uraiannya:
(1)Komponis
yang disebutkan (Sadra dan Rahayu Supanggah) adalah komponis
(orang yang menciptakan hasil karya musik) yang menjunjung akar budaya
tradisional. Mereka adalah laskar – laskar yang menjaga telinga orang Solo dari
budaya barat.
(2) Modrik Sangidu (aktivis) menjadi laskar yang melindungi kepala (pemikiran) orang –
orang Solo dari penjajahan ideologi kebaratan.
(3) Slamet
Gundono (dalang) menjadi laskar yang
melindungi mata orang Solo agar tidak dibutakan dengan kesenian barat.
(4) Suprapto
Suryodarmo (guru spiritual) bertugas menjadi laskar pelindung hati (rohani,
batin) orang – orang Solo dari pengaruh barat.
(5) Dan
yang terakhir pak Jokowi (wali kota Solo pada masa itu. Sekarang jadi presiden) adalah
pemimpin, penggerak dan pemegang komando. Seorang pemimpin kota Solo memiliki
kewajiban untuk menjaga kotanya.
Kelima
golongan tersebut digambarkan bertugas untuk ‘menjaga’. Ketika saya bilang ‘menjaga’,
bukan berarti mereka sama sekali anti terhadap barat. Di era global ini, asimilasi
budaya merupakan hal yang mustahil dihindari. Lagi pula, apa bila budaya dari
luar yang diambil kedalam bersifat positif, maka akan membawa dampak positif pula.
Apa bila ada sesuatu yang ‘kelewatan’, maka tugas mereka dimulai, seperti yang
diceritakan dibawah.
“Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian
lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang
Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke
belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara
berjalan yang menggetarkan. Langkah yang pelan, yang pasti, yang terkonsentrasi
penuh. Namun gaya ini—sekali lagi–tulen. Gadis itu melenggang ke pintu masuk
keraton ketika tiba-tiba John meloncat mengejarnya. Fafa mencoba menahan John.
Saya dan Modrik serta pak Jokowi ikut berlari mengejar. Prapto, Sadra, dan
Panggah terbahak. Gundono berteriak dan tertawa, ”Kejar! Kejar!” sambil
mencakar cukelelenya keras-keras membangun ketegangan.”
Peristiwa
di atas mengibaratkan masuknya perjuangan budaya barat, yang diwakili oleh diri
John. Ketika John awal beraksi, mengapa hanya pak Modrik dan Pak Jokowi yang
berusaha menjaganya? Seperti yang saya terangkan sebelumnya, mereka tidak anti
pada budaya luar, lebih menganut ke paham penyaringan budaya. Mereka melihat
terlebih dahulu bagaimana budaya barat tersebut melebur. Jika melihat penggalan
cerita di atas, nampaknya orang ‘seni’ memang lebih santai dari pada orang ‘politik’.
Sebuah kesan tersembunyi dari mas Danarto.
Kebetulan
lagi? Tidak! Mas Danarto memang jenius!
“Ketika John
mencapai teras keraton, kami melihat pemandangan yang mengerikan: John jadi
Cleret Gombel! Menyaksikan John yang bermetamorfosis jadi sebangsa bunglon yang
bisa terbang itu, gadis yang dikejar itu berteriak-teriak ketakutan lalu
meloncat ke dalam ke halaman dalam keraton. Kami berloncatan meringkus John si
Cleret Gombel. Saya dan pak Jokowi terlempar. Fafa menjerit karena si Cleret
Gombel menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Mas Modrik yang persis Samson
itu dengan kuat meringkus John hingga roboh. John terus meronta menggeram-geram
sambil unjuk taringnya yang putih berkilat. Kemudian dengan mobil hardtop mas
Modrik, ramai-ramai John kami serahkan kepada pak Oei Hong Djien, guru
spiritual yang khusus menangani keseimbangan pikiran dan perasaan, dari
komunitas kebatinan Sumarah. Kami sepakat membantu John untuk melamar penari
Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.”
Nah, di
sini tensi cerita mulai memuncak. Si John berubah jadi Cleret Gombel, atau kalau
orang betawi sebut Cekibar, dan orang Sunda sebut Hap – Hap. Jika masih
bingung, sebut saja nama umumnya, ‘cecak terbang’. Dengan mata telanjang, kita
bisa mengira bahwa perubahan John, yang mana dari manusia menjadi kadal,
merupakan cara lain untuk menunjukkan John telah hilang kendali secara
dramatis. Tapi, lagi – lagi sisi penasaran saya bertanya, “kenapa harus Cleret
Gombel?”
Cleret
Gombel secara fisik adalah kadal bersayap. Tidak seperti burung, hewan ini
menggunakan sayapnya untuk mendarat dengan elegan. Karena tidak bisa terbang,
maka sedikit – banyak tujuan terbang luncurnya hanya bisa lebih rendah, tidak
bisa lebih tinggi. Oleh karena itu, John yang dalam cerita menjelma menjadi
Cleret digambarkan menuruni derajatnya sebagai orang barat menuju ke kebudayaan
timur. Sudah cerita lama bahwa orang barat ‘merajai’ mayoritas isi dunia dari
zaman dahulu kala ketika masih mencari rempah, hingga sekarang. Coba hitung
berapa banyak negara yang dijajah dan penduduknya yang diperbudak.
Cleret Gombel sendiri
secara geografis menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di
barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau,Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur.( https://id.wikipedia.org/wiki/Cecak_terbang).
Semua itu adalah kawasan Asia. Dengan kata lain, si John mengasimilasi diri
dengan wujudnya sebagai hewan Asia yang pada konteks ini adalah ‘cecak terbang’.
Sebelum kita lanjut,
saya menemukan hal menarik. Sangat menarik.
“Kami sepakat
membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan
namanya Intan Paramaditha.”
Siapakah
Intan Paramaditha? Dia adalah
sastrawan segudang pretasi Nasional dan Internasional.
Ia adalah seorang pengarang dan akademisi. Karya sastra maupun tulisan ilmiahnya sering kali terfokus pada hubungan antara gender dan seksualitas, budaya, dan politik. (Wikipedia)
Ia adalah seorang pengarang dan akademisi. Karya sastra maupun tulisan ilmiahnya sering kali terfokus pada hubungan antara gender dan seksualitas, budaya, dan politik. (Wikipedia)
Kalau
tidak salah, Mbak Intan sekarang
berdomisili di New York, Amerika Serikat. Apakah Mbak Intan ‘terancam’ oleh ‘Cleret
Gombel’? Sangat mungkin, seperti halnya dalam cerita.
Bagi
yang ingin tahu siapa Intan Paramaditha dalam,
bisa klik tautan dibawah.
Dan sebagai penutup….
“Belakangan pak
Jokowi melakukan rapat maraton dengan para budayawan Solo untuk membahas
tentang rencananya melakukan revitalisasi gaya melenggok ala Macan Lapar ini.
Kota Solo diyakini menjadi satu-satunya kota di dunia yang punya gaya berjalan
putri-putrinya yang elegan itu.”
Revitalisasi
artinya menghidupkan atau menggiatkan kembali. Para tetokoh sedang merencanakan
untuk menghidupkan kembali kebudaayan mereka yang dalam cerita diwakili oleh
gaya melenggok ‘Macan Lapar’
Apa
yang dapat kita pelajari dari cerpen tersebut? Kalau Anda membaca dengan
seksama, Anda dapat menyimpulkan sendiri.
Sudah
dilapisan berada anda merobeknya?
Ya
Tuhan. Saya menemukan emas!
Sudahkah
anda?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar